DEW Direktori Indonesia

Mengulas Pendidikan dan Teknologi

Edukasi di Indonesia Itu Tidak Penting Lagi!

Orang pintar Indonesia pernah ada, ilmuwannya pun pernah ternama, namun kini apakah hanya tinggal nama, dengan keadaan Indonesia yang tidak lagi mementingkan pendidikan di berbagai bidang, khususnya dunia entertainment atau juga disebut dunia hiburan.


Banyaknya siaran televisi tidak mendukung kemajuan intelek penduduk, acara-acara yang disuguhkan hanya berbentuk hiburan tanpa adanya edukasi mendidik, bahkan serial film yang diperankan oleh anak-anak selalunya bartajuk percintaan, maka tidak salah jika anak-anak sekarang telah berpacaran di bangku SD, karena saat ia pulang sekolah tontonan yang ia dapatkan adalah drama cinta atau FTV yang bertema sama.


Begitu pun nyayian yang banyak tersebar sekarang, jika dahulu anak-anak menyanyikan lagu anak seperti “abang tukang bakso”, “kasih ibu”, dan sebagainya, itu karena lagu anak memang banyak diciptakan, kini lagu yang dibawakan anak-anak tetap ada namun dengan kata-kata berisi cinta, dan rata-rata begitu semua.


Dahulu kita mendapatkan acara televisi seperti “ranking 1”, dan “cerdas cermat”, namun kini acara yang berbau seperti itu tidak tahu entah menghilang kemana, jika ditanyakan pada yang menghasilkan, mereka menjawab karena sedikitnya peminat di acara tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa mereka menginginkan yang sensasional sehingga mendatangkan banyak penonton dan mereka pun mendapatkan fee yang lebih besar. Jika mereka bisa membuat sebuah acara atau film menjadi top teratas, apakah mustahil jika mereka juga membuat yang beraroma pendidikan menjadi bintang? Sedangkan yang memiliki kesempatan, lapangan dan usaha seperti itu adalah di tangan mereka.


Warga negara ini telah dianggap sebagai peran tidak penting disaat kehadirannya malah sangat berarti, atau dibutuhkan. Sehingga terbagilah penduduk seakan menjadi dua kelompok, “orang waras” dan “orang goblok”. 

Orang yang tanda kutip dibilang orang waras itu adalah orang-orang yang masih berakal sehat tapi kebanyakan kediamannya sangat disayangkan. Dan bukan berarti harus diartikan dan didatangkan antonim dari orang waras, tapi memang negara ini sedang terlalu banyak bergabung di dunia entertainment sehingga edukasi tersudutkan, dan banyak yang menganut tanpa sistem pendidikan, tidak memperdulikan, atau lemah sistem sehingga sistem yang lain menjadi terjal.


Apakah hak masih akan dijejalkan, bahkan  saat diperjuangkan banyak yang bungkam. Apakah kuasa atau kaya yang akan terus merajalela, sehingga orang kritis dikritisi sebagaimana yang disalahpahami orang-orang saat ini. Hati nurani yang ada di setiap insan banyak terkalahkan oleh emosi dan gengsi. Hati kecil perlu disuarakan bukan hanya didengar saja. 

Apakah lupa dengan Indonesia yang berjajar pulau-pulau, ada pedalaman, penduduk pelosok yang susah makan, tidak tau peradaban, lalu akan dibodohkan? Atau tidak tau? Atau tidak ada lagi? Sudah dijagalkah mereka di pasar internasional?  


Seorang aktivis yang telah meraungi banyak jejak di dunia penulisan membahas nasib negeri ini dengan  berkata “Tetapi dengan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki negeri ini, tidak serta membuat masyarakatnya hidup sejahtera”, dari peristiwa dan hal yang banyak terjadi di tengah-tengah kita saat ini.  


Kekayaan yang melimpah tak terlihat dikarenakan orang kaya yang masih bisa dihitung dan masih banyaknya yang berekonomi sedang bahkan rendah. Hutang indonesia yang semakin sulit ditutup tidak menyisipkan satu pun hal yang paling bisa dihargai dan menghasilkan untuk negeri sendiri. 

Sistem edukasi yang pernah diperjuangkan oleh pejuang zaman dahulu hingga zaman sekarang, seperti para pahlawan, para guru, pengarang, novelis, sastrawan, youtuber bermanfaat, yang juga melewati televise, surat kabar, radio, media sosial, namun surut kembali oleh kata-kata tenar dan viral, yang mana sesuatu yang dikatakan “tenar” sekarang tidaklah menuntut kepada suatu hal yang bisa dijadikan pelajaran, begitu pun yang dinyatakan dengan kata “viral” saat ini juga bukan hal yang bisa dijadikan cerminan.  


Pendidikan bagai bentuk yang tiada arti dibandingkan hiburan yang dinilai lebih menguntungkan, yang memilih pendidikan itu masih banyak, tapi seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa ini semua tertutup oleh melambungnya kata tenar dan viral. Untuk itu, suara perlu disatukan seperti apa yang dikatakan oleh seorang aktivis bahwa “perlu peran ulama, intelektual, pengusaha, pemuda, mahasiswa, pelajar dan santri untuk bersatu bahu membahu dalam rangka mengedukasi masyarakat untuk optimalisasi potensi”.


Jadi, manakah orang waras yang mengetahui keadaan negeri ini, yang paham bagaimana bentuk sistem di pemerintahan, juga perpolitikan, dan pendidikan.

oleh Rifda AH via Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *