DEW Direktori Indonesia

Mengulas Pendidikan dan Teknologi

Literasi Digital dan Penguatan Karakter di Lingkungan Keluarga

Apakah yang dimaksud dengan literasi? Apa pula yang dimaksud dengan literasi digital? Dalam arti sempit literasi merupakan kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis atau sering disebut dengan melik huruf. Namun dalam arti luas, literasi tidak sekedar membaca dan menulis, namun sebuah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahmi informasi secara menyeluruh dengan melakukan proses membaca dan menulis. Seseorang harus mampu memilah dan memilih informasi yang sesuai fakta dan tidak berisi ujaran kebencian yang menyinggung SARA. Sedangkan literasi digital  merupakan kemampuan sesorang dalam membaca dan menulis dengan kaitannya mengolah informasi di dunia digital, baik menulis, membaca, membagiakan, dan mengomentari informasi.

Di Indonesia sendiri, dikutif dari laman resmi kemdikbud.com tanggal 29 Agustus 2019, menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 3,29 juta orang pada tahun 2018, dimana sebelumnya pada tahun 2017 tercatat ada 3,4 juta orang atau 1,93% penduduk buta aksara. Hal ini merupakan keberhasilan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan Republik Indonesia. Pemerintah menjadikan program penuntasan buta aksara ini sebagai prioritas atau fokus. Memang program ini sudah sangat berasil jika dilihat dari awal kemerdekaan dimana terdapat 97% penduduk buta aksara.

Sebagai bangsa yang bangsa yang besar, memang kita harus berbangga dengan keberhasilan program pemerintah dalam pemberantasan buta aksara ini secara langsung maupun tidak langsung telah mampu memajukan bangsa kita di segala lini kehidupan. Dengan melek asara setiap penduduk dewasa ini menjadi lebih mandiri, lebih dmokratis, lebih terbuka terhadap informasi, tingkat pendidikan yang semakin baik, tingkat ekonomi yang semakin baik, serta dipandang dalam pergaulan dunia internasional. Namun dibalik itu permasalahan baru pun mulai muncul. Ternyata tidak setiap orang tidak cukup hanya dibekali kemampuan membca dan menulis saja. Akan tetapi dibutuhkan sebuah kemampuan literasi yang lebih kompleks. Terutama dalam literasi digital ini.

Apa yang kita kenal dengan literasi digital belakangan ini pula belum bisa maksimal. Mayarakat kita masih kurang memiliki kemapuan dalam literasi digital yang menyuguhkan infomasi yang begitu cepat, dan juga banyak infomasi yang tidak baik seperti infomasi yang tidak sesuai fakta, bohong, palsu (hoax). Di sinilah permasalahannya timbul. Masyarakat kita nyatanya belum mampu menerima kenyataan dunia digital ini. infomasi yang begitu cepat, budaya litarasi yang masih kurang menyebabkan permasalahan ini semakin meruncing. Masyarakat kita selama ini hanya sebatas disiapkan untuk melek aksara saja, namun belum ditumbuhkan budaya literasi dan bagaimana meningkatkan kecakapan literasi di dunia digital ini

Literasi digital tidak akan mampu berjalan dengan optimal jika hanya berpijak pada kemampuan dalam membaca dan menulis serta bagaimana menggunakan web internet khususnya media digital. Melainkan harus dibarengi dengan karakter yang baik dan kuat dalam menjaga tingkah laku dalam berkomunikasi di media digital itu sendiri. Khususnya pada media sosial, dimana masyrakatnya sangatlah beragam yang mempunyai latar belakang berbeda.

Di sinilah pentingnya karakter tersebut pada penguatan literasi digital. Ibarat seorang driver yang menggerakan kemmapuan dalama literasi digital ini. Di samping itu, hal ini akan menjadi jiwa atau nalar dalam literasi digital itu sendiri. Tanpa karakter yang baik dan kuat, literasi digital tidak akan mampu berjalan dengan baik. Seberapa hebatpun kemampuan membaca dan menulis serta penggunaan media digitalnya. Pasti tidak akan mampu bijak dalam menggunakannya.

Hanya ada satu jalan dalam menumbuhkan karakter ini yaitu melalui pendidikan karakter itu sendiri. Pendidikan karakter bisa ditumbuhkan di setiap lingkungan di manapun individu tersebut melakukan proses sosialisai. Hal ini bisa terjadi di sekolah, di rumah, di masyarakat, ataupun di lingkungan kerja, dan komunitas sosial lainnya. Bahkan di dunia digitalpun semestinya pendidikan karakter ini bisa ditumbuhkan dengan baik.

Pendidikan karakter di sekolah selama ini telah berlangsung dengan sistem yang sangat baik. Hal ini bisa dilihat dari adanya pendidikan karakter secara menyeluruh, seperti masuknya pendidikan karakter dalam setiap kompetensi dasar yang direalisasikan dengan pengajaran di kelas. Termasuk juga pendidikan karakter di luar kelas serta kegiatan ektrakurikuler seperti pramuka, seni, dll.

Pendidikan karakter di rumah atau lingkungan keluarga memang masih belum optimal. Beberapa orang tua masih acuh terhadap pentingnya pendidikan karakter ini. Padahal sesungguhnya pendidikan karakter di lingkungan keluarga inilah yang sangat baik dan mempunyai peran yang kuat terhadap karakter anak. Memang harus dibiasakan pendidikan karakter ini, dibiasakan dalam rutinitas sehari-hari berupa tindakan yang biasa dilakukan di rumah, seperti bertutur kata yang sopan, bertingkang laku yang baik, menjaga ingkungan, menjaga ketertiban, dll. Dan yang paling mendasarkan, hal ini harus selipkan dalam setiap taktivitas rumah dalam keseharian.

Pendidikan karakter di masyarakat sebenarnya telah diatur oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat didukung oleh budaya khas nusantara yang banyak berisi aktivitas-aktivitas kebudayaan dan kearifan lokal yang membiasakan setiap individu untuk terbiasa melakukan aktivitas tersebut yang sarat akan makna dan nilai. Nilai luhur yang diajarakan secara turun temurun sehingga mampu melekat di setiap hati individu. Nilai luhur ini tentunya berisi nilai-nilai pendidikan karakter yang nantinya mampu menguatkan setiap individu tersebut.

Ada 18 (delapan belas) nilai pendidikan karakter yang digaungkan oleh pemerintah melalui yang harus ditumbuhkan pada setiap individu di Indonesia yaitu, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Semua ini merupakan telah digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri yang harus diwariskan secara turun temurun sebagai bangsa yang berkarakter.

Kaitannya dengan penguatan literasi digital tentunya dengan 18 nilai pendidikan karakter tadi akan mampu menguatakna literasi digital sehingga mampu menjaga polemik yang terjadi pada dunia digital terutama pada media sosial. Dengan nilai religius seseorang akan lebih mampu mengendalikan dirinya dengan menerapkan ajaran agamanya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Jujur dalam setiap membuat dan membagikan informasi. Menjaga toleransi dengan setiap perbedaan, baik suku, agama, pendapat, dll. Disiplin, kerja keras, kreatif, dan mandiri dalam berkarya menggunakan media digital, dengan menghasilkan karya yang posiitif. Selalu menjunjung nilai demokratis dalam bersosialisasi di dunia digital dengan tidak memaksakan kehendak.

Rasa ingin tahu dan gemar membaca terkait mencari atau menelusuri informasi yang benar dan mampu menyebarkan informasi yang benar sesuai fakta dan menyejukkan. Semangat kebangsaan dan cinta tanah air akan membangkitkan jiwa nasionalisme yang tidak mudah terpecah belah dari upaya-upaya pelemahan persatuan. Menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, akan tetap menjaga kedamaian di dunia digital dengan tidak menyulut permusuahan. Tanggung jawab akan pentingnya menjaga kedamaian di dunia digital sehingga setiap orang akan merasa harus tetap menjaga kedamaian.

oleh I Putu Yoga Purandina via Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *